22/01/2019

Kepada Alang-alang

Hai, Alang-alang, yang daunnya tajam bukan kepalang!

Jangan dulu mencariku, ya. Sebab, aku sedang bergumul mesra dengan dunia. Dengan kehidupan yang nyata dan bukan maya. Tanpa berpura-pura ada tawa. Yang hanya bisa ditonton lewat social media.

Kutinggalkan beberapa akun media sosialku yang kerap membuat jenuh. Terlebih maraknya beraneka ekspresi palsu yang membuat otak dan hatiku kian rusuh. Aku lebih baik di sini, meski sendiri namun teguh. Dan kubiarkan mereka berbahagia dengan hati yang gaduh.

Selamat datang, euforia!
Tapi tak perlu berlebihan jika bahagia.
Aku di sini bertemankan semesta, binatang, dan bunga.
Merasa nyaman, aman, dan sentosa!




-Kemang,
Sehabis hujan yang dingin, bikin masuk angin!

21/01/2019

Selepas Menyudahi Saman

Aku telah menghabiskan waktu sekitar 2 minggu untuk mencerna dan menyudahi Saman. Benar kata Cinta, ada sedih dan marah ketika menyerapnya ke otak dan mengalirkannya ke hati. Aku sedih atas nasib manusia-manusia yang selalu saja tertindas. Mereka marah karena hak asasinya sebagai manusia terancam kandas. Aku marah karena para iblis dengan mudahnya menyiksa manusia-manusia yang belum tentu bersalah. Mereka sedih karena iblis-iblis itu sukar dijinakkan dan terus merajam tanpa lelah. 

Otakku sedih sebab Laila pernah menggilai pria yang sempat mengemban diri menjadi pendeta. Hatiku marah sebab lelaki itu malah bersetubuh dengan sahabat Laila yang cerdas, sudah punya pasangan, dan sanggup membuatnya tergoda pula. Tapi, memang bagi kebanyakan orang, seks itu terlalu indah dan terlalu nikmat untuk dilewatkan. Begitu pula bagi Saman dan Yasmin. Barangkali, inilah salah satu penyelewengan yang tak jauh beda dengan pengkhianatan para manusia berkelakuan iblis yang kerap menganiaya dan menipu manusia-manusia yang diambil hak-haknya. Padahal, sejatinya mereka itu sama-sama manusia. Akan tetapi, bukankah pergumulan yang dilakukan Saman dan Yasmin juga merupakan hak mereka sebagai manusia? Sekalipun Yasmin berkhianat pada Laila?

Hak dan pengkhianatan kerap saling berdekatan hingga kini. Bukan berarti tak bisa dipisahkan. Hanya seorang pemberanilah yang sanggup memisahkannya. Tentu, dengan bantuan seorang terpelajar juga, yang mestinya sudah mampu berlaku adil sejak dalam pikiran, seperti kata Pram.

Di akhir bacaan, aku berdoa untuk Anson dan kawan-kawan. Semoga mereka selalu selamat di manapun mereka berada. Aku juga berdoa untuk Upi. Agar kelak, Upi bisa menemukan pujaan hati yang nyata dalam keadaan waras dan bahagia (tapi, bukankah semua manusia yang hidup di muka bumi ini sesungguhnya sudah pada gila?). Selanjutnya, aku juga berdoa untuk Shakuntala. Semoga Tala atau Shakun bisa terus menari dan mencintai banyak orang kapanpun dan dimanapun ia inginkan. Sebab, aku teringat temanku ketika aku membaca Tala. Ia seorang gay, namun hatinya sangat baik. Aku merindukannya. Aku memang tak pernah pro terhadap LGBT. Tetapi, aku sangat berharap jika setiap orang tetap menghargai dan menyayangi mereka sebagai manusia, atas nama kemanusiaan, tanpa pembedaan. Tak lupa, kuhaturkan pula doa untuk Sihar. Semoga ia tak perlu merasakan tinju dari kepalan jemari Tala yang terlatih.

Ah, satu lagi. Aku juga ingin mendoakan Laila. Agar tubuhnya jatuh di tangan lelaki yang memang tepat untuknya.

Oh iya, bolehkah satu doa lagi aku panjatkan? Aku ingin berdoa untuk Marsinah, seorang aktivis dan buruh yang namanya muncul beberapa kali dalam Saman. Semoga ia menemukan keadilannya di surga, meskipun tidak mendapatkannya di dunia.

P.S: menanti Larung yang akan segera kujemput dari toko, atau mungkin dari kamu.


*Tentang:
Saman karya Ayu Utami


-Kemang,
Berlatar suara hujan yang gemercik dengan suasana yang asyik