Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

23/11/2019

Merekam Jakarta

Aku melihat malam yang gemerlap akan bintang-bintang yang sesungguhnya redup, 
bintang itu tidak menjadi terang karena fusi yang alami, tetapi sebab tenaga listrik,
ia hidup dengan sentuhan tangan manusia. 
Manusia-manusia yang lelah.

Aku menelusuri lorong waktu yang sebenarnya tak berdetak detik yang berjalan,
lorong itu gelap, berusia tua, dan hampir punah
tapi sorot lampu dari ribuan kendaraan yang lalu lalang seakan tak henti tak ingin berhenti.
Mesin mereka bekerja dari pagi sampai malam
seperti manusia-manusia yang lembur meski badan sudah tersungkur
tidur kurang teratur,
sebab permintaan yang tak terukur dan asal melantur,
barangkali.

Aku menikmati keriuhan jalan Jakarta yang tak pernah padam,
Jakarta menanggung beban berat, katanya.
Akan tetapi, Jakarta itu menyebalkan yang dicintai.

Aku mengedipkan mata berkali-kali,
bukan sebab genit pada lelaki yang bahunya pun terlalu jauh untuk ditepuk,
tapi sebab keheningan yang selalu kurasakan ketika mengamati Jakarta yang ramai,
yang tak pernah tidur, yang terlalu malas untuk bermalas-malasan, 
Jakarta yang senyap tapi dipaksa gaduh
Jakarta yang dikutuk tapi selalu dicari
Jakarta yang istimewa tapi akan segera dilupa

Sedangkan di lubang telinga,
aku mendengarkan suara Rara dan Ananda yang merdu
menyanyikan satu bait yang amat kusuka,
yang mereka ambil dari satu karya puisi Chairil yang kugemari;

"Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah."


Kemang,
November 2019

*Tentang: Banda Neira - Derai-derai Cemara (1949) Musikalisasi Puisi Chairil Anwar

22/01/2019

Kepada Alang-alang

Hai, Alang-alang, yang daunnya tajam bukan kepalang!

Jangan dulu mencariku, ya. Sebab, aku sedang bergumul mesra dengan dunia. Dengan kehidupan yang nyata dan bukan maya. Tanpa berpura-pura ada tawa. Yang hanya bisa ditonton lewat social media.

Kutinggalkan beberapa akun media sosialku yang kerap membuat jenuh. Terlebih maraknya beraneka ekspresi palsu yang membuat otak dan hatiku kian rusuh. Aku lebih baik di sini, meski sendiri namun teguh. Dan kubiarkan mereka berbahagia dengan hati yang gaduh.

Selamat datang, euforia!
Tapi tak perlu berlebihan jika bahagia.
Aku di sini bertemankan semesta, binatang, dan bunga.
Merasa nyaman, aman, dan sentosa!




-Kemang,
Sehabis hujan yang dingin, bikin masuk angin!

25/12/2018

Pengkhianat

Kamu adalah pengkhianat nomor satu

Kamu adalah pengkhianat nomor dua

Kamu adalah pengkhianat nomor tiga

...

...

Kamu adalah segala pengkhianat di muka bumi yang berkubu menjadi satu.



-Rumah yang berisik, yang mengingatkanku pada seorang pengkhianat yang menawari makhluk lain menemaninya menginap di sebuah ruang

07/08/2016

Manis yang Sepat

Hati-hati di jalan. Aku menunggumu. Selalu.


Tak ada yang lebih manis selain cinta,

tak ada yang lebih sepat selain luka.

Luka,
ia tidak pahit,
tapi sepat seperti salak penggoda yang berdusta.

Menipu waktu, pikiran, juga hati.
Pandangan terlebih lagi.
Ia menyelisik angin, menangkap tatapmu cengkeram.
Membuatmu mabuk dan lupa bahwa waktumu tidak ada.

Waktu
adalah kata benda yang tak pernah kau punya.

-Minggu yang ternyata sendu, 21:16

26/11/2015

KAMIS

Kamis, kau datang padaku dengan terang,
dengan riang,
dalam hatiku yang temaram,

Meringkuk pada wajahnya yang gelisah,
tak sekalipun senyum merekah
hanya resah,

Aku terbuai lelah,
dalam diammu,
dan hatiku pun kembali patah,

Pergilah

Jika aku bukan keabadianmu bersandar
dan berbagi

Cerita.

Sekalipun kau tahu,

Aku selalu ada,
nyata,
dan menanti.



(catatan untuk Kamisku yang sendu)