Showing posts with label Merenung. Show all posts
Showing posts with label Merenung. Show all posts

07/02/2020

Nala, Anakku

Nala, anakku...

Ibu dan ayahmu belum saja menikah, tapi cinta terasa begitu kuat. Entah mengapa. Sebulan lagi hari pernikahan kami. Hari yang kerap disenangi sekaligus ditakuti, bahkan dijauhi banyak manusia sebab komitmen setia seumur hidup. Sementara itu, kamu masih jauh sekali di sana, Nak. Belum pula menjadi inti dari sperma ayahmu. Belum pula menjadi nafsu yang membuat sperma keluar dari rumahnya untuk mengejar dan mengawini ovum hingga membentuk zigot. 

Kamu masih menjadi bayang-bayang terindah kami, Nak. Setiap kali kami bertemu dan berbaring di atas alas langit malam yang gelap dan berbintang terang, seakan tak ada lagi yang lebih terang dan lebih tenang. Lalu kami terpejam, membayangkan senyum dan kebebasanmu menjelajah pikiran manusia-manusia yang enggan menjejak tanah, yang selalu terburu-buru akan urusan perut dan kerja, yang senang bermacet-macet ria demi melupakan luka.

Tapi, tak mengapa. Kamu cuma perlu tahu, Nak. Bahwa setiap manusia punya luka dan suka yang berbeda. Kamu tak perlu menyamaratakannya. Kamu tak perlu bersusah payah memasuki dirimu pada mereka. Kamu hanya perlu memahami, bahwa secukupnya itu jauh lebih baik ketimbang kurang dan lebih. Bahwa kamu juga punya keleluasaanmu sendiri. Bahwa kamu adalah milikmu sendiri. Sementara kami, akan tetap di sini menjadi sahabat terbaikmu, Nak. Yang terbaik untukmu. 

Izinkan kami memelukkmu dekap penuh cinta dan tetap.


Kemang,
7 Februari 2020

20/08/2019

Menjadi Bodhi

Ada beberapa kesamaan antara Bodhi dan aku.

Pertama, kami sama-sama sebatang kara. Ya, meskipun aku masih punya bapak dan kakak, namun rasanya seperti sendiri. Aku bertemu bapak hanya ketika ia pulang bekerja, sementara kakakku pergi dengan kebahagiaannya sendiri dimabuk cinta.

Kedua, Bodhi dan aku sama-sama sangat peka terhadap apapun. Jika Bodhi bisa melihat kuman-kuman mikroorganisme yang semestinya tak bisa dilihat oleh mata telanjang, aku bisa melihat sekelebat bulu burung super tipis yang jatuh di kejauhan, aku juga bisa melihat sekilas bayang tikus mungil yang berlalu di kolong meja, dan aku juga bisa mendengar suara-suara cecurut mini yang sedang asyik berbincang dengan sekawanannya. Barangkali, jika sekumpulan curut itu ngobrol sambil merokok dan minum kopi pun, rasanya aku bisa memahami apa yang sedang mereka musyawarahkan.

Ketiga, apabila Bodhi tak ingin terlalu lama hidup tapi tak perlu juga buru-buru mati, disebabkan ia merasa lelah mencari kesejatian, penyebabku yang utama justru adalah orang-orang terdekatku yang mendadak berubah dan menghilang. Kupikir, bagaimana bisa orang terdekat menjadi sebegitu risau jika aku menghampirinya dan berada lekat di sampingnya?

Keempat, Bodhi dan aku sama-sama bisa merasakan sesuatu tanpa diminta. "Ia" datang begitu saja sesuka hati. "Ia" kerap membuat otak menjadi gila padahal diri ini sudah terbiasa menjadi waras. "Ia" juga muncul sekonyong-konyong hanya untuk memberitahu hal-hal yang tak ingin kami tahu. "Ia" tegar menjadikan apa yang tadinya tak kami kenal, lantas menjelmakan diri menjadi bayi yang baru saja kami lahirkan. Begitu dekat dan akrab.

Kelima, kami sama-sama berpura-pura tak tahu diri dengan menumpang hidup ke sebanyak mungkin orang. Orang-orang yang berbeda tentunya. Orang-orang yang awalnya tak kami kenal dengan baik.

Keenam, Bodhi dan aku sama-sama lelah dengan kelainan kami.

Maka dengan ini, aku menyatakan tak ingin menjadi seseorang yang berbeda. Jangan pernah lagi menyebutku sebagai perempuan yang berbeda dari perempuan yang lainnya. Mengutip kata Rayi dalam bio instagramnya beberapa saat yang lalu, "Biasa". Meskipun aku tahu dia itu luar biasa. Aku pun ingin menjadi seorang biasa yang bisa hidup normal, bahkan kalau perlu, seperti kata Bodhi, "sebisa mungkin tidak berpikir".

Ah, ditinggal ibuku pergi membuatku sadar, bahwa tak ada satupun manusia lain yang dapat memahamiku, atau setidaknya mau mengingatku dengan segala ketulusannya. Bisa dibilang, manusia-manusia yang sedang berhubungan denganku saat ini cuma mampir. Mereka bisa menyayangiku saat ini dan bisa mempedulikanku detik ini, tapi pada detik berikutnya mereka bisa berubah menjadi binatang yang sangat liar. Didekati ogah-ogahan, apalagi diajak berkawan.

Memang, keberuntungan setiap orang itu berbeda. Maka, kau tak perlu mangkir dari sebutan "untung atau beruntung". Tak semua yang kau dapat saat ini adalah hasil dari usaha sekeras batu, bisa saja karena keberuntungan yang kau punya. Seperti Bodhi, ialah satu dari "bangsat yang beruntung", kata Bong. Sebab, Bodhi bisa tak jadi mampus, padahal gudang tempatnya siaran untuk memutar lagu-lagu punk rusak terbakar hangus.

Tapi, Bodhi tak perlu selamanya berkecut hati, sebab Fadil dan Nabil, kembar kaya yang bersedia menyuntikkan dana untuk punk in the heart mereka malah menyediakan tempat baru untuknya siaran. Ditambah pula bonus tumpukan CD dari Midnight Oil, Fugazi, The Clash, Citizen Fish, Black Flag, dan Chumbawamba sebelum gabung dengan EMI, begitulah ungkap Dee si penulis cerita.

Sementara aku? Aku juga telah menjelma satu di antara "bangsat yang beruntung". Sebab aku tahan banting. Meskipun terkadang doyan kabur. Tapi tak apalah. Ketimbang terburu-buru mati hanya karena perasaan yang kerap menjadi pilu dan menyumbat hidung padahal tidak flu.

Ah, mari bergegas!

*tentang: Supernova Akar karya Dee Lestari



Kemang,
Agustus 2019

26/04/2019

Maret Mendung, 2019

Tak ada yang lebih gelap dan pekat selain malam tanpa lampu. Juga tanpa setitik cahaya yang menembus kornea sehingga mata menjadi buta. Ditambah pula terkapar di sebuah ruang yang pengap, tak ada kipas angin, yang ada hanya suara jangkrik yang sedang ngobrol asyik dengan kodok kampung yang super berisyik. Untungnya, malam itu aku tak sengaja berhalusinasi, melihat wajah ibuku yang sedang tersenyum memelukku saat aku terbangun dari lelap.

Ibuku lahir di bulan Maret tahun 1961 silam di Tulungagung, Jawa Timur. Ia kerap bercerita, ketika ia masih kanak-kanak, ia seringkali mendengar titah penjaga kampung yang lantang menyuruh penduduk agar mematikan dimar pada malam hari. Dimar adalah pelita yang terbentuk dari nyala api. Ibuku senang menirukan suara penjaga kampung yang sok gagah itu ketika berkali-kali ia menceritakannya padaku, "Woooyyyy, dimar e matiiii!!!" Begitulah perintah penjaga yang sangat sulit dilawan. Kubayangkan betapa gelapnya rumah ibuku kala itu. Akupun bertanya, "Lalu, bagaimana mama bisa belajar?" Ia menjawab, "Mbah kung diam-diam menyalakan korek api untuk menerangi buku yang kami baca." Kulihat, sebersit senyum manis melintas di bibir ibuku yang kusayang.

Selanjutnya, lima puluh delapan tahun kemudian setelah ibuku lahir, tepat delapan hari setelah tanggal kelahirannya, ibuku pun pergi meninggalkanku tanpa pamit. Sungguh kesal sekali aku dibuatnya. Bisa-bisanya waktu begitu menjengkelkan dan membuatku harus mengucap kata ikhlas yang dibuat-buat. Bagaimana tidak? Sebagai manusia biasa yang gemar berpikir, akupun terus bertanya-tanya di dalam hati, "Bagaimana mungkin seseorang bisa benar-benar ikhlas ditinggal pergi orang terkasih? Mending kalau ditinggal tidur beberapa jam. Lha ini, aku ditinggal ibuku tidur selamanya. Lantas, bagaimana mungkin semudah itu aku ikhlas?" Di tengah kekacauan pikiranku, air mataku tak kunjung menetes. Ia seperti tertahan tak mau keluar. Barangkali sudah habis. Sebab, mukaku yang selalu datar sudah bengkak dibanjirinya, ketika aku menyaksikan ibuku ditusuk-tusuk jarum suntik, jarum infus, jarum obat, dan entah apalagi di hari-hari sebelumnya. Yang jelas, aku melihat banyak sekali kabel yang saling melengkung, saling menindih, menjadi kusut dan sulit diurai seperti jalinan saraf di otakku yang semakin ruwet.

Barangkali, inilah yang dinamakan kesedihan yang begitu dalam, sehingga yang merasakannya pun tak mampu mengeluarkannya melalui tangis, jeritan, atau lolongan. Akupun seperti itu. Saat aku terus melafalkan nama Allah di telinga kanannya, sesaat kemudian ibuku dengan santainya menghembuskan nafas terakhir tanpa pamit. Aku hanya terdiam menyaksikan proses pelepasan ruhnya. Kurasa, ibuku tak merasakan sakit. Kepergiannya terasa damai. Tak ada rintihan kesakitan. Tak ada tangisan yang keluar. Tak ada hujan dan petir yang menggelegar seperti di film-film. Yang kusaksikan saat itu hanya rintik hujan yang lembut dan awan yang sedikit kelabu, namun angin tetap sepoi menyejukkan. Aku mengantar ibuku pulang dan menemaninya di mobil jenazah yang menyisakan cukup ruang untuk kami bernostalgia sesaat dan berdua saja, sebelum akhirnya ia dimasukan ke liang lahat tanpa daya.

Selama perjalanan pulang, aku berkata pada ibu, "Ma, keren deh pemandangannya. Ada gunung, ada sawah, ada kehidupan yang riuh namun tenang. Mereka menemanimu dalam perjalanan pulang." Namun, ibuku diam saja. Ia tak menggubris omonganku. Tapi, aku yakin, dalam tidur panjangnya yang senyap, ibuku pasti tersenyum bahkan tertawa mendengarkan ocehanku yang terkesan sok kuat. Ibuku sangat memahamiku. Ia pasti paham apa yang sedang kurasakan. Bahkan dalam hati aku menghardik, hahahaha banyak sekali manusia yang sudah kutipu dengan tawaku. Rasakanlah! Sebab itulah kuberitahu kepadamu, wahai para pembaca, bahwa di antara segitu banyaknya manusia, ibukulah yang paling tahu tentang diriku. Sialnya, aku terlambat menyadarinya.

Dan kini, kupikir tak ada lagi manusia yang sanggup memahamiku tanpa perlu aku menjelaskan. Tak ada lagi perempuan kuat yang selalu menyuruhku untuk kuat. Tak ada lagi ibu yang galak dan tukang ngomel namun selalu mengajarkan kebenaran. Tak ada lagi seseorang yang bisa aku peluk dan memelukku saat tidur dan bercerita banyak hal. Tak ada lagi.

Ada. Dia selalu ada. Ibuku selalu ada. Hanya wujudnya saja yang sudah tak kasatmata.

Percayalah.


Tulungagung-Jakarta-Tulungagung-Jakarta,
Maret Mendung 2019

22/02/2019

Surat untuk Annisa yang Selalu Kuat dan Berani

Hai, Nis!

Ketika kamu membaca surat ini, kuharap kamu masih menjadi seorang perempuan yang kuat dan berani. Seorang perempuan yang mandiri dan nggak pernah takut berjalan sendiri. Kudengar, kini kamu telah memahami, mengapa seseorang yang pernah mengajarimu banyak hal dengan segala kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya, malah mengasingkan diri dan seolah-olah dirinya bukan apa-apa. Padahal, kamu tahu, ia tahu, kalian sama-sama tahu, bahwa ia adalah seorang asing yang terkuat yang pernah kamu temui selama kamu hidup di dunia ini. Tentu saja, seseorang itu menduduki posisi kedua sebagai perempuan terkuat yang kamu kenal dengan baik setelah ibumu. Ya, ibumu adalah perempuan terkuat yang pernah kamu miliki, Nis. Bersyukurlah. Bersyukur karena kamu memiliki seorang ibu yang selalu kuat dan berani. Kupikir, keberanian dan kekuatan yang kamu miliki saat ini berasal dari kekuatan dan keberanian yang ibumu punya.

Selain itu, janganlah ragu untuk mengakui bahwa kamu kini telah tumbuh menjadi seorang perempuan yang cerdas. Kamu menggunakan kecerdasanmu untuk menganalisis banyak hal. Kamu tak pernah sekalipun meninggalkan otakmu barang sejenak untuk berpikir, merenung, menganalisis, dan memutuskan langkah apa yang mesti kamu ambil untuk menyeselesaikan segala permasalahan yang kamu miliki. Kamu pun juga mengimbangi kecerdasanmu itu dengan keberanian yang tak semua orang punya. Bersyukurlah. Sekali lagi, bersyukurlah, Nis. Aku pun yakin, kecerdasanmu itu juga menurun dari kecerdasan ibumu. Lagipula, kamu sudah pernah membaca artikel yang membahas tentang kromosom ibu yang mewariskan kecerdasannya kepada anak, bukan? Ya, memang betul. Sebuah penelitian dari University of Washington menyatakan bahwa perempuan menurunkan kecerdasannya kepada anak karena memiliki dua kromosom X, di mana pria hanya memiliki satu kromosom X. Tentu, kamu akan semakin berbangga hati, bukan? Sebab, kamu bisa yakin menerka bahwa anak-anakmu nanti akan mewariskan kecerdasan yang sama besarnya dengan kecerdasan yang kamu miliki. Sungguh hebat bukan, seorang perempuan itu, Nis? Maka, kembalilah bersyukur dan tak lupa mempertajam kekuatan yang kamu punya.

Melalui surat ini pula, aku ingin mengucapkan terima kasih untukmu, Nis.

Terima kasih, karena kamu telah menjadi seorang anak perempuan yang tangguh, yang sudah mengurus ibumu yang sedang sakit selama hampir dua tahun ini. Ya, meskipun aku tahu, kamu tak pernah bisa mengasihi seseorang dengan perlakuan yang sangat halus dan luwes layaknya perempuan pada umumnya. Namun, yang kubanggakan darimu, meski kamu terkesan cuek dan galak, kamu tetap berusaha melindungi orang-orang yang kamu cinta dengan sebaik mungkin.

Terima kasih, karena kamu telah menjadi seorang teman yang selalu berusaha untuk berkata dan berperilaku jujur. Ya, meskipun terkadang perkataanmu sedikit dan cukup menyakitkan untuk didengar. Tapi, kamu tak perlu khawatir. Menjadi baik bukan berarti kamu harus menjadi orang lain dan berkata bohong demi menyenangkan perasaan teman-temanmu, bukan? Kupikir, kamu sudah hafal di luar kepala tentang hal itu, Nis. Jadi, tetaplah bersikap jujur dan apa adanya, meskipun kamu bisa meninggalkan kesan yang menyebalkan dan layak dimusuhi. Oh iya, apakah kamu masih percaya dengan konsep teman? Pelajarilah hal itu baik-baik dari pengalamanmu sendiri, Nis.

Terima kasih, karena kamu sudah bisa menjaga dirimu sendiri dari pengaruh buruk orang-orang yang kerap kamu temui dimanapun kamu berada. Kamu selalu menekankan dalam pikiran dan hati bahwa kamu hanya ingin akrab dengan orang-orang yang bermanfaat, 'baik', dan tidak berpura-pura. Pun kamu masih yakin, bahwa seburuk-buruknya penampilan seseorang, pasti ada hal baik yang ia punya dan bisa kamu ambil sebagai pelajaran hidup. Begitulah. Kamu telah melakukan hal itu dengan baik. Kamu pun kini tak segan menghindari orang-orang yang hanya menimbulkan banyak masalah dalam hidupmu. Kamu juga tak merasa berat hati meninggalkan orang-orang yang hanya gemar mengacaukan pikiran dan perasaanmu. Orang-orang palsu yang kerap mengecewakan. Begitulah julukan yang kamu berikan kepada orang-orang itu. Manis sekali.

Terima kasih, karena kamu sudah berusaha untuk tidak melulu  bergantung kepada orang lain. Kamu kini yakin, bahwa hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah dengan menggantungkan kebahagiaanmu kepada dirimu sendiri. Hanya kamulah yang bisa membuat dirimu bahagia. Tentu, didampingi dengan orang-orang tercinta. Namun, apabila mereka tak lagi bisa menemanimu, kamu akan terus berusaha untuk tetap merasa bahagia. Sebab, kamu kini sudah pula yakin, bahwa kamu mampu menggenggam kebahagiaan di tanganmu sendiri. Oh iya, selain pada dirimu, tetaplah menggantungkan harapan kepada Allah. Sebab, Dialah satu-satunya yang kekal yang tak pernah meninggalkanmu sedetikpun.

Terima kasih, karena kamu tetap dan terus menjadi dirimu sendiri di hadapan siapapun. Terima kasih, karena kamu tak pernah sungkan menolak. Terima kasih, karena kamu sudah berusaha untuk menerima segala hal. Terima kasih, karena kamu tak pernah bosan untuk berpikir, menganalisis, menyusun satu per satu benang kusut, serta mau untuk belajar berempati.

Maaf, jika aku masih saja menganggapmu tak lebih baik dari orang lain. Maaf, jika aku tak pernah bersyukur menjadi kamu. Maaf, jika aku masih sering membanding-bandingkan kelebihan dan kekuranganmu dengan orang lain. Maaf, jika aku harus memaksakan tubuhmu untuk selalu kuat melakukan apapun. Maaf, jika aku seringkali menghabiskan waktumu hanya untuk mempelajari karakter manusia.

Tolong, tetaplah menjadi Annisa yang sederhana, gemar menyendiri, lebih mengutamakan logika, mengasah intuisi, dan mau belajar banyak hal sampai kamu tak lagi hidup di dunia ini. Tolong, kunjungilah tempat-tempat baru yang belum pernah kamu datangi dan janganlah segan untuk berbincang dengan orang-orang asing yang akan kamu temui di sana. Tolong, belajarlah untuk bertemu dengan berbagai macam orang, agar kamu bisa mempelajari manusia yang tentu memiliki kultur yang beragam. Tolong, jangan berhenti berusaha mendapatkan apa yang kamu inginkan dan cita-citakan. Tolong, tetaplah menjadi perempuan yang setia kepada keluarga dan pasangan. Tolong, berusahalah menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang hingga tubuhmu tak lagi tegap dan sigap, hingga tubuhmu terbujur kaku dan kakimu tak lagi menjejak bumi yang indah ini.



Salam,

(Manusia kecil yang ada di dalam tubuhmu yang selalu menyayangimu)
Annisa

Kemang,
Februari 2019

31/01/2019

Jatuh Hati dengan Kamera Instax


Sudah lebih dari satu minggu aku menutup diri dari instagram. Sudah lebih dari satu bulan pula aku mengasingkan diri dari foto digital. Aku rasa, diriku menjadi lebih tenang. Aku bisa lebih berdamai dengan segala prasangka. Aku juga semakin mahir mengontrol ketidakpuasanku terhadap hasil. Kupikir, hidup dengan dunia yang serba sulit dan tak memudahkan itu terasa lebih asyik. Aku pun juga lebih mudah bersyukur dan memiliki waktu lebih banyak untuk menikmati hidup. Hidup yang begitu dekat dengan kematian. Sesungguhnya.

Pacarku menghadiahiku kamera instax di usiaku yang ke-27. Usia yang kerap dijadikan patokan sebagai keberuntungan apabila kamu mati di usia ini. Sebab, sudah ada beberapa orang terkenal yang mati di usia 27. Begitu pula yang pernah diharapkan pacarku untuk kematiannya. Kalau aku sih, aku tak pernah peduli pada usia berapakah aku akan mati. Bagiku, kematian hanyalah hal biasa yang tak perlu diistimewakan. Tak perlu ditakuti. Tak perlu dirisaukan. Biar saja ia datang sesuai kehendakNya.

Omong-omong, aku sedang jatuh hati pada benda yang akhir-akhir ini hampir selalu membuat jantungku berdebar dan otakku terus berputar. Tenang saja, aku tak perlu menjadi musryik. Sebab, aku tak pernah memujanya. Aku hanya memuji, hanya menikmati. Terlebih, hasil yang tak pernah sesuai dengan ekspektasi. Hasil yang selalu membuat bibirku mesem-mesem sendiri. Belum lagi dengan proses yang hampir selalu membuatku berimajinasi dan terus-terusan berfantasi.

Yap, aku jatuh hati dengan kamera instax pemberiannya. Rasa-rasanya, aku pun lebih menyayangi kamera ini ketimbang kamera digitalku yang dulu. Sebab, aku tak perlu repot-repot dan menunda-nunda waktu untuk mencetaknya. Lagipula, aku pun tak perlu melakukan retouch atau mengeluarkan ekspektasi yang besar untuk hasilnya. Barangkali, aku pun lebih senang menggunakannya juga karena aku tak perlu menghabiskan waktu hanya untuk mengulang-ulang jepretan kamera, apalagi ketika melihat hasilnya di layar dengan hasil yang tak memuaskan dan terus-terusan memaksa diri memotret objek yang sama lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Yang biasanya dilakukan demi reputasi dan segala puja dan puji dari orang-orang yang lihai mengkritik hasil karya dan kreasi. Ah, sungguh membosankan!

Selain itu, aku juga bisa belajar mengingat dan memahami tentang pencahayaan dalam fotografi. Waktuku untuk menikmati suasana sambil menontoni lalu lalang orang-orang asing yang selalu memberiku kejutan pun semakin banyak dan berkualitas. Aku pun juga bisa meningkatkan kuantitas bersyukurku, sebab aku tak perlu terus-terusan merasa tak puas atas proses yang kujalani, dan mengulang-ulang proses memotretku. Soalnya harga kertas filmnya sangat mahal. Bagiku, barangkali seperti inilah analogi yang sering diucapkan orang-orang, "Waktu itu sungguh mahal. Sehat itu mahal. Dan mahal-mahal yang lain." Hahaha!

Aku bisa mengontrol diriku sendiri. Aku berhasil.

Bukan berarti aku tak ingin menggunakan kamera digitalku lagi, sih. Akan tetapi, untuk beberapa waktu ini dan entah sampai kapan, aku akan terus menggunakan kamera instaxku untuk memotret. Aku akan menggunakannya sebagai salah satu cara menenangkan hati dan pikiran, serta obat untuk mengontrol diri sendiri.

Kupikir betapa tak enaknya jika kita tak sanggup mengontrol diri sendiri dan hidup di bawah kendali orang lain yang sungguh memuakkan.


NB: Norak, ya? Biarin. :p

*Tentang:
Fujifilm Instax Mini Neo 90 Brown


Kemang,
Januari 2019

27/01/2019

Tanda Tanya

A: ...

B: ...
...
...
...


C: ("Dan akulah yang paling capek.")
...

-Ruang,
Januari 2019

26/01/2019

03:33 AM

Semua orang tertidur. Hanya aku yang masih terjaga. Aku melihat kehidupan yang hambar dan kematian yang biasa saja. Kehidupan hanyalah kehidupan. Kematian juga tak perlu ditakuti atau dikhawatirkan. Dengan kata lain, kau tak perlu merasa takut kehilangan dan tak perlu juga merasa khawatir meninggalkan.

Yang sesak adalah menahan. Yang lega adalah membebaskan. Kau tak usah gamang bercerita. Ungkapkan saja. Jangan biarkan orang lain mengontrol emosimu. Jangan pula pasif, apabila mereka membungkam pikiran dan suaramu. Tapi, tunggu dulu, kau juga mesti membiarkan orang lain bercerita. Mendengarkannya. Meski tak bisa langsung memahami, tak apa. Sebab, setiap manusia memang ditakdirkan untuk terlebih dulu mengalami agar mereka bisa dan mau mengerti. Bohong saja jika ada yang berucap: "Aku ngerti, kok."--padahal ia tak pernah menjalaninya sama sekali. Huh!

Terkadang, hati memang harus berdamai dengan otak. Agar tak perlu membuatmu terlalu cengeng. Tapi, tak usah juga terlalu menunjukkan kebahagiaan. Hiduplah dengan melihat, bercerita, dan mendengarkan. Barangkali, dengan begitu kau akan memahami makna berbagi dan menerima.



-Di kehidupan yang semu
Hanya ada ombak dan langit, serta burung-burung yang gagah dan pepohonan yang indah,


juga aku yang begah. (kenyang)

Kemang,
Januari 2019

22/01/2019

Kepada Alang-alang

Hai, Alang-alang, yang daunnya tajam bukan kepalang!

Jangan dulu mencariku, ya. Sebab, aku sedang bergumul mesra dengan dunia. Dengan kehidupan yang nyata dan bukan maya. Tanpa berpura-pura ada tawa. Yang hanya bisa ditonton lewat social media.

Kutinggalkan beberapa akun media sosialku yang kerap membuat jenuh. Terlebih maraknya beraneka ekspresi palsu yang membuat otak dan hatiku kian rusuh. Aku lebih baik di sini, meski sendiri namun teguh. Dan kubiarkan mereka berbahagia dengan hati yang gaduh.

Selamat datang, euforia!
Tapi tak perlu berlebihan jika bahagia.
Aku di sini bertemankan semesta, binatang, dan bunga.
Merasa nyaman, aman, dan sentosa!




-Kemang,
Sehabis hujan yang dingin, bikin masuk angin!

20/01/2019

Balasan Cahaya

"Biasa saja. Kamu tak perlu menjadi berlebihan terhadap rasa dan pikiran. Biasa saja."

Aku menanam baik-baik kalimat itu dalam pikiran. Mengasahnya tajam-tajam dalam perasaan. Betul juga, pikirku. Segala yang berlebihan memang tak baik. Segala yang kurang, ya, sama saja. Sebab, lebih baik cukup, dan ombak, dan gelombang, akan tetap bergemuruh sama.

Dan matahari, dan bulan, dan bintang, 
Bisa kembali karenanya.
Semoga.





-Kemang,
Di ruang tengah yang senyap menuju lelap, aku tersenyum

12/01/2019

Di Kamar yang Gelap

Aku menyimpan segala kegelisahan di tempat ini. Juga melengkapi ketiadaan yang membuatku tumbang, bimbang, dan enyah tak seimbang. Kutemui belasan nyamuk yang gemar menggigiti kulitku dan lincah menghisap darahku. Sesungguhnya, nyamuk-nyamuk itu tidak bersalah. Mereka hanya menjalani tugasnya agar manusia tak melulu rapuh dan gaduh. Sekali tepuk saja, merosot sudah. Itulah manusia kesepian sepertiku, yang diam-diam mempunyai dendam melumat basah yang mengacaukan detak jantung sang pemeran.

"Aku meresahkan segala hal yang dimulai saja belum," ujarku pada langit-langit kamar yang gelap.

Dari ruang yang lain, kau malah mengirimiku pesan agar aku segera tidur jika sudah mengantuk. Tapi, aku diam-diam pula menolaknya. Sebab, aku sedang ingin bercinta dengan kamarku sendiri. Mematikan semua lampu agar aku bisa seolah-olah menikmati malam yang temaram.

Kunikmati bau kepayahan yang tiba-tiba muncul. Ah, betapa lucunya hidup ini. Hampir setiap manusia berpura-pura tertawa padahal hatinya hancur sudah. Kubersitkan sedikit senyum yang kecut. Tapi, kunikmati pula segala bau yang menempel di bantalku. Segalanya mengingatkanku pada rambut dan kepala yang kerap kubenamkan dalam peluk. Aku memang tak pernah berubah. Masih saja kuserahkan pejam mataku kepada Rabu. Hari yang membuatku senang mengamati wajahmu yang penuh tanda tanya.

Apa yang sedang kamu pikirkan?

Tanyaku pada langit-langit kamar yang gelap, yang mengisi ketiadaan.




-Di kamar yang gelap, 12 Januari 2019

25/12/2018

Pengkhianat

Kamu adalah pengkhianat nomor satu

Kamu adalah pengkhianat nomor dua

Kamu adalah pengkhianat nomor tiga

...

...

Kamu adalah segala pengkhianat di muka bumi yang berkubu menjadi satu.



-Rumah yang berisik, yang mengingatkanku pada seorang pengkhianat yang menawari makhluk lain menemaninya menginap di sebuah ruang

04/12/2018

Menjadi Bambu

Menjadi orang yang memiliki prinsip kuat dan tak mudah goyah adalah rencanaku. Aku kini berhenti berteman pada harap. Aku hanya ingin bersahabat dengan rencana-rencana dan realitas yang sekalipun menyakitkan. Aku menyukai rasa sakit. Aku kebal terhadapnya. Bagiku, rasa sakit itu seperti sahabat sejati. Ia mungkin tak selalu menemani, tapi di saat-saat yang membingungkan, ia hadir dan terus mencaplok pundakku, merengkuhku, dan menularkannya kepadaku rasa sakit yang layak kumiliki. Hingga rasa sakit bukan lagi menjadi sebuah luka yang menyakitkan karena telah terbiasa. Rasa sakit layaknya sahabat, yang tak selalu bersama dalam maya, tapi selalu menemani dalam nyata.

Aku kini berusaha menjadi bambu. Bambu yang siap dibacok dengan golok super tajam. Dengan arit yang siap membelah. Tapi bambu selalu kuat, ia tak pernah berkhianat. Ia kokoh berdiri membenamkan kaki pada prinsipnya. Meskipun tubuhnya kerap mengikuti arah angin yang menariknya, ia tak pernah kemana-mana. Ia tak pernah meninggalkan rumahnya, ia tak pernah meninggalkan pondok kecilnya. Ia terus hidup, meskipun setengah raganya dibacok, dibelah, dan diseret.

Aku mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan hal-hal yang bisa merusak rasa sakit yang sedang kunikmati.

Aku membiarkan angin menggerakkan tubuhku ke sana dan ke mari, hingga aku lupa pada kehidupan yang hanya memberikan harapan tapi juga memusnahkannya sekaligus.

Aku sengaja memejamkan mata untuk menikmati setiap sayatan yang kuterima, hingga mengucurkan darah yang kujilat sebagai sirup merah dengan rasa manis yang belum tentu orang lain punya.

Aku menjadi terbiasa dan pada akhirnya menikmati setiap luka sebagai tanda kebahagiaan yang fana dan kembali memagut, mencatut, memungut kenangan-kenangan lama dalam imajinasi yang jarang kujamah. Selain pada waktu. Waktu yang membuatku iri pada setiap kehidupan lain yang dengan pongahnya menawarkan tawa di luar akal sehat, dengan akhir limbung di depan barak api yang membara.

Aku menang. Menang atas kekalahanku sendiri.


-dalam pikiran yang menerawang entah ke mana, namun dirinya selalu ada

menghampiriku.

12/05/2018

Sebuah Perayaan yang Sunyi

Selamat ulang tahun, Masmon...

Doaku untukmu adalah semoga kamu tetap awas dan bahagia.

...

Bukan, bukannya aku tak ingin mengucapkannya langsung kepadamu. Bukan pula aku malas menghubungimu. Tapi ini dikarenakan keadaanku yang sedang lelah-lelahnya saat ini. Sebab, akhir-akhir ini kata-kata yang diucapkan menjadi begitu membosankan buatku. Sudah terlalu banyak kata-kata yang kudengar. Sudah terlalu sering juga aku berkata-kata yang mungkin sesungguhnya tanpa makna. Bahkan, sebenarnya saat menulis inipun kuharap aku tak perlu berpikir apalagi menorehkan lagi kata-kata untukmu. Sayangnya, saking aku tak ada uang untuk membeli kado yang layak untukmu, kuizinkan saja jari-jari ini menghadiahimu banyak sekali kata-kata. 

Jangan bosan, ya. Maklum, akhir-akhir ini aku sering merasa teman-temanku sedang bosan denganku. Apakah aku memang membosankan? Apakah aku tidak layak menjadi saudara dan tempatmu bercerita seperti di film-film keluarga? Ah, begitu jauh dan luas jarak di antara kita, ya, sekarang. Bahkan aku sudah lupa bagaimana baumu. Jarak di antara kita bukan hanya tentang ruang, tapi juga rasa. Duh, kenapa sih aku cuma mampu menulis tentang rasa? Apakah tak ada lagi hal-hal yang jauh lebih penting ketimbang rasaaaa........ melulu?

Begitulah. Biasanya, aku selalu punya intuisi tentang apa saja yang sedang atau akan terjadi padamu. Namun, kali ini aku tak merasakan apa-apa. Selalu yang kurasa adalah jauh. Kamu jauh sekali. Jauuuuuuuhhhh sekali. Aku tak sanggup menjamahmu.

Oh iya, Rabu lalu aku menonton film berjudul The Other Side of Hope di Goethe Haus bersama pacarku. Film itu bercerita tentang dua orang berbeda kultur yang tak sengaja bertemu. Sebenarnya ada dua kisah, namun yang ingin kuceritakan padamu adalah kisah Khaled, seorang pengungsi Syria yang terdampar di Helsinki, Finlandia, terpisah jarak sebegitu jauh dengan adik perempuannya, Miriam. Singkat cerita, Khaled tak pernah tahu dimana Miriam berada, hingga pada suatu ketika seseorang yang tak sengaja bertemu dengannya itu malah membantunya mencari Miryam. Mereka lalu bertemu untuk akhirnya berpisah kembali. Mungkin untuk selamanya. Lalu, aku teringat tentangmu. Lebih tepatnya tentang kita. Tentunya aku berharap kita tidak perlu mengikuti jalan hidup Khaled dan Miriam yang harus berpisah lagi untuk selamanya itu.

Kenangan yang sempat mampir di otakku adalah ketika kamu masih menjadi pelindungku dan aku masih menjadi adik kecilmu yang galak tapi cengeng. Hehehe........

Sayang, namanya kenangan akan sukar diulang. Barangkali kamu masih ingat dengan boneka Si Komo dan Donal Bebek yang sering membuat kita bertengkar? Ah, tapi ya, sudahlah. Barangkali juga kamu sudah tak punya cukup waktu untuk mengenang segala hal itu.

Melalui tulisan ini, juga kujelaskan bahwa aku tak menginginkanmu tinggal kembali di rumah kontrakan kita yang kecil ini. Hanya saja, kuharap kamu selalu terjaga untuk melaksanakan janji. Nah, dari sekian banyak janjimu, aku terus teringat pada satu. Kehadiranmu di pernikahanku nanti. Entah kapan tapi ya, semoga saja.

Aku merindukan keributan kecil yang dulu sering kita ciptakan dan renungkan.
***


(Aku tahu kamu tak akan pernah membaca tulisan ini.)

24/11/2017

Masih Ada Senja di Ibu Kota

Senja dari jembatan penyeberangan Stasiun Lenteng Agung

Aku cukup berbahagia ketika tahu kekasihku tak jadi marah. Belum usai kebahagiaanku sore itu di kereta, keluar dari stasiun aku disambut banyak jajanan yang membuat mata dan perutku lapar. Sungguh, lapar yang ganda. Belum juga usai mataku mengunyah tampilan menarik otak-otak dan tahu gejrot, kali ini rasa dalam hati dan pikiranku yang dibuat kenyang oleh matahari yang mengumpat malu-malu dalam senja yang megah nan indah dari balik jembatan penyeberangan yang sudah amat sangat tua ini.

Sungguh, kurasakan hari ini Tuhan amat sangat berbaik hati dan bersekutu denganku.

Aku hampir-hampir tak peduli ketika puluhan manusia yang lalu-lalang di samping kanan, kiri, depan, dan di belakangku. Aku terhanyut akan keindahan yang jarang sekali aku temukan di tengah ibu kota yang pahit ini. Pahit dengan muka-muka manusia yang jarang tesenyum apalagi tertawa. Pahit akan debu yang berseru ketika diinjak kaki-kaki manusia yang selalu berjalan amat sangat cepatnya. Pahit akan realita kemacetan dan banjir yang hiruk-pikuk dan layak dikutuk-kutuk.

Namun, apa boleh buat. Jakartaku tempatku berlindung dari sengitnya pertempuran ego di segala tempat. Sungguh, setiap manusia itu memang mengerikan. Tak terkecuali aku.


-Kemang, 23 November 2017

27/02/2016

Cinta dan Semusim

*foto: Capung bermesra dengan bunga. Kelembutan nuansa.

Hampir jam 2 pagi, ketika kutemukan waktu yang berlayar di ponselku. Entah kenapa, sedari tadi mataku terus mencari satu notifikasi yang tak pernah datang, hingga aku yang lebih dulu berkunjung.

Inderaku yang lain tak juga mau kalah eksis. Sebuah alunan lagu yang bermusik memabukkan, dengan lirik yang wangi, merdu, indah, mengalun sejuk di telingaku. Semusim. Lagu yang dinyanyikan Almarhum Chrisye ketika berduet dengan Waljinah.

Mari, kuajak engkau meresapi nikmatnya lagu ini...

Semusim, bersemi bunga,
dalam kelembutan cakrawala senja.
Pagi benderang jernihnya semesta,
dalam wangi bunga menyambut insan bercinta.

Sentuhan bibirmu membakar peluhku,
bergelora tak terlukiskan.
Sukmaku jiwaku berpadu bermesra,
dalam kabut cinta abadi.
Selamanya...

Wahai engkau yang sedang jatuh cinta... Mengapa harus ada tangis, kalau tawa lebih menyentuh-merindu?

Biar aku yang menjawab:
"Aku jatuh cinta pada angin yang jarang tergenggam. Ia melayang, terbang, berlabuh pada hari, pada semesta. Dan kini ia berjarak. Betapa sakitnya luka yang tak pernah sembuh. Betapa bahagianya melihat ia terbang dalam tawa. Betapa akhirnya aku tahu, mencintai tak seringan yang kubayangkan."

Cintaku tak hanya semusim, ia hadir dalam nuansa yang jarang aku sadari.


Semoga kamu selalu dalam keadaan baik.
-Annisa

04/02/2016

Perjalanan Tentang Buku 1

foto: Ayo membaca buku! Hei, ini koleksi bukuku, loh!

Buku. Meski nggak terlalu banyak pengalamanku berkawan dengan buku, tapi paling tidak ada beberapa 
buku yang aku rasa tepat untukku. Layaknya bermeditasi, buku mengajakku mendalami ruang sritiual yang mungkin baru aku sadari keberadaannya ketika aku sedang membaca buku. Diajaknya aku berjalan-jalan mencicipi segala macam pengalaman, lalu menganalisisnya, memberikan kesimpulan, memecahkan kerumitannya, kemudian memahami, hingga pada fase tertinggi, dengan rasa kelegaan luar biasa, aku seolah diajak untuk melepas segala pemikiranku. Meleburkan pikiran dan sudut pandangku terhadap realitas dunia yang terus hidup--bahkan ketika kehidupan itu dikatakan telah mati.

Aku mengenal buku, atau lebih tepatnya mengenal kegiatan membaca buku pertama kali, adalah pada saat aku mengaji di sebuah TPA, di daerah Bangka, Jakarta Selatan. Saat itu usiaku menuju tahun kelima. Aku mendapat dua buah buku hadist dan cerita anak, setelah aku mengikuti kegiatan membaca puisi di suatu acara pengajian anak-anak, yang dihadiri pula oleh masing-masing orang tuanya.

Judulnya "Puisi Bismillah". Namun, aku telah lupa isinya. Hanya euforia tawa dan tepuk tangan para anak dan ibu-bapak yang hadir, yang lantas selalu aku kenang dan membuatku selalu bersemangat untuk membaca puisi di panggung. Tak berlangsung lama, kegiatanku membaca puisi atau ikut lomba puisi berhenti saat aku duduk di bangku SMA. Aku lebih memilih kegiatan olahraga basket dan fotografi untuk mengisi waktu luangku. Tapi, tetap tidak membuat surut kegiatan membacaku.

Memasuki Taman Kanak-kana, aku mulai gemar membaca cerita rakyat, cerita para nabi, dan buku saku dongeng yang kudapatkan ketika ibu membeli sekotak susu bubuk untuk kakakku. Yap, buku saku dongeng itulah hadiahnya. Betapa beruntungnya aku. Kakakku yang meminum susu, aku yang membaca dongeng. Kakakku mendapat tambahan gizi, aku mendapat tambahan ilmu. Sekadar informasi, bukan karena ibuku tak mampu beli susu untuk kedua anaknya, namun, dulu itu aku sangat malas minum susu. Aku lebih cinta teh hangat dalam botol dotku ketimbang susu. Hehehe...

Enam tahun perbedaan usiaku dengan kakak, membuatku beruntung karena aku tak kehabisan bahan bacaan. Segala macam buku pelajaran yang kakakku punya, selalu aku pinjam. Entah hanya untuk dibaca sembarang, atau untuk aku corat-coret saja. Hingga akhirnya, kegiatanku membaca meluntur menjadi gemar menulis. Menulis apa saja. Meski bukan menulis cerita atau hal penting, namun itu bukan soal. Aku gemar sekali menulis surat, terutama ketika aku dan kakakku akhirnya berpisah. Kakakku bersekolah di kampung hingga tamat SMP. Aku melanjutkan sekolah di Jakarta. Kegiatan saling mengirim dan membalas surat, menjadi kegiatan yang selalu kutunggu.

Beranjak remaja, aku diajak menonton film Ada Apa Dengan Cinta? oleh kakakku. Buku "Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar" karya Sjumandjaja, ayah dari Aridya Yudistira, Sri Aksana atau Aksan Sjuman, dan Djenar Maesa Ayu, telah menarik perhatian beberapa remaja yang menonton film itu. Salah satunya aku. Bukan karena buku itu dibaca oleh Rangga dan Cinta, tapi lebih karena ada nama Chairil Anwar, penyair pertama yang aku kenal sebelum WS. Rendra, yang menjadi alasanku tertarik membaca buku itu. Menuju ulang tahunku yang ke-14, kakakku menjanjikan untuk membelikannya sebagai hadiah ulang tahunku. Aku senang bukan main.

Nama Chairil Anwar sering aku dapati dari buku pelajaran Bahasa Indonesia, sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Beberapa baris dari salah satu sajaknya sering menjadi pertanyaan pada lembar soal yang kukerjakan. Seperti sepenggal bait dalam sajak Diponegoro,

"Di depan sekali tuan menanti
 Tak gentar, Lawan banyaknya seratus kali.
 Pedang di kanan, keris di kiri
 Berselempang semangat yang tak bisa mati."

Atau sepenggal bait dalam sajak Chairil yang berjudul Sajak Putih,

"bersandar pada tari warna pelangi
 kau depanku bertudung sutra senja
 di hitam matamu kembang mawar dan melati
 harum rambutmu mengalun bergelut senda"

Bukan hanya itu, masih banyak lagi, hingga akhirnya aku teramat hafal dengan nama Chairil Anwar, dan menjadikannya sebagai penyair pertama favoritku. Buku kedua yang kumiliki sendiri adalah Aku Ini Binatang Jalang Koleksi Sajak 1942-1949 karya Chairil Anwar, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, dan diedit oleh Pamusuk Eneste. Sejak saat itulah, aku menjadi semakin gemar membaca.

Betapa menyenangkannya ketika aku menemukan sebuah buku yang aku rasa tepat untukku. Aku jarang mempersoalkan buku yang baik, buku yang bagus, atau buku yang seru. Aku lebih tertarik dengan buku yang aku rasa tepat untukku. Entah tepat karena cerita yang dituliskan hampir sama dengan apa yang sedang aku rasa, atau tepat waktu membeli dan membacanya.

Aku juga senang membeli buku, beserta proses mendapatkan buku itu. Tak jarang, aku meminjam buku yang menarik perhatianku kepada teman, lalu kalau ada uang lebih, aku akan membelinya di toko buku. Memiliki buku lebih menyenangkan ketimbang meminjam buku, bagiku. Aku senang sekali menandari aksara-aksara atau kalimat favoritku dalam setiap buku, dengan menggunakan textliner, highligter, pulpen, atau pensil. Kalau meminjam buku, aku tidak bisa bebas menggarisi, mencoreti, atau menandai aksara dan kalimat favoritku itu, kan. Hehehe...

Ah, nggak ada habisnya deh, kalau membicarakan tentang buku. Sementara, sampai di sini dulu, ya. Akan kulanjutkan cerita perjalanan tentang buku di ruang dan waktu selanjutnya.

Terima kasih, bagi yang sudah mau membaca. Aku ngantuk.

Selamat malam, Para Penghuni Semesta!

24/11/2015

Hujan Turun Lagi...


*lokasi: depan rumahku.

Langit sedang dalam keadaan terang-terangnya. Namun matahari, sedang enggan menyapaku.

Hujan. Turunlah ia, dikawal sang angin yang menyapu daun dari rantingnya. Membuat daun berlari, bergerak kesana-kemari. Menari dengan segala liukannya yang indah. Menjemput sang air dari kerajaannya menuju bumi. Membasahi tanah. Bekerja sama dengan gemuruh bunyi-bunyian langit. Aku membayangkan ada sekawanan tyrannosaurus yang sedang berlomba serdawa besar-besaran. Aku tersenyum, setengah manis, setengah pahit. Belum jatahku untuk bertemu dengannya, mungkin.

Kubuka pintu belakang rumahku. Menikmati sejuknya belaian angin bercampur bau hujan yang membasahi tanah. Sekalipun itu bukan lagi tanah. Tapi aspal. Seharusnya itu tanah. Tetap tanah. Tanah yang bisa menjadi resapan sang air sebelum kembali bertemu dengan penciptanya, pikirku.

Tapi, apa daya. Mereka yang berkuasa. Memberikan titah seolah dari sang dewa kepada manusia. Padahal mereka juga manusia. Manusia yang senang berburu. Layaknya Pithecantropus Erectus, mereka berburu mencari makanan. Mencari nafkah untuk makan dan kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri. Aku jadi teringat Bapak. Bapak kandungku yang sudah berpuluh tahun bekerja untuk menafkahi keluarganya. Aku menyayangimu, Pak. Andai kau tahu. Sekalipun aku yakin. Engkau selalu tahu.

Haaaah, selamat bermain kembali, wahai hujanku. Sudah hampir sebulan ini, engkau datang dan meresap ke dalam pori-pori kulitku. Ataukah memang sudah sebulan? Atau bahkan lebih? Entahlah. Aku lupa. Aku hanya ingat baumu. Bau khas milikmu.

Semoga Kamis segera datang dengan terang. Dan kau bisa kembali ke rumahmu untuk sementara. Ke kerajaanmu. Bermain dengan teman-teman langitmu. Maka, izinkan aku untuk bisa bermain dengan temanku juga, ya. Satu hariiiii saja.

Terima kasih.

Penikmatmu,
-Annisa.