08/12/2016

Memeluk Cakrawala

"... awan di pelukan..."

Selamat malam, Fajar!

Aku ingin menemuimu sekali lagi. Aku ingin mengadu tentang dunia yang semakin kacau. Tentang mendung yang menderas pelan menjadi rinai, lalu membanjir. Meluap seperti kata-kata yang sudah usang, dan sudah lama bosan mengendap dalam hati lalu meledak, menghancurkan harap, dan kalap menjadi amarah, kemudian pecah. Mendendam dalam setiap doa. Mencinta, menunggu, terlelap.


Selamat malam, Senja!

Siapapun namamu, sungguh, aku membencinya. Aku tak pernah suka senja. Terlalu banyak yang mencintainya layaknya dewi yang tak pernah rapuh. Kuat dan anti peluru. Tahan banting dan... dan aku tidak tahu bisa sampai kapan aku akan menyukainya. Mengharapkannya hadir dalam gemulai gumpalan asap rokok sialan ini. Membenci, menghilang, terbang melayang.


Selamat malam, Waktu!

Sungguh sial kau menamai kami Fajar dan Senja yang murung, yang ternyata tidak tahu apa nasib waktu (1), yang bodoh lantas membodohi teman kami sendiri. Kami membencimu, wahai waktu yang membedah cakrawala senja menjadi jingga kebiruan. Jingga yang aku benci. Biru yang ia cinta, yang tak pernah aku peduli. Tapi, tahukah kamu, wahai waktu sialan? Aku dan ia berebut biru dan tak ada yang mau menjadi jingga!

Lantas, mengapa kau mencipta putih? Awan itu! Aku iri kepadanya! Ia berwarna putih, tinggi di langit yang setiap detik memata-matai pergerakan kami! Awan sialan! Dia tak pernah berkonflik seperti aku dan ia. Seperti biru dan jingga. Awan itu aman, damai, nyaman, dan tak terusik sedikitpun. Sementara aku, ketika aku ingin mampir menjadi jingga yang dipuja banyak orang, aku akan diusir. Dianggap biru yang tak layak menyanding jingga. Lalu ia, ketika ia menghampiriku, aku yang sudah muak dengan kesombongan biasnya ingin sekali merobek kasar kemegahannya. Mayoritas yang menjadikanku minoritas di pagi hari. Di sebuah waktu di mana semua orang sibuk sendiri.

Sementara ia, semua orang menikmatinya. Menatapnya merdu, khidmat, layaknya suci yang tak pernah terjamah tangan-tangan kotor gedung-gedung raksasa. Kelak, aku ingin menjadi hitam. Yang bisa meleburkan jingga menjadi kelam, gelap tanpa senja yang sesungguhnya. Pekat.

...

Dan aku akan tetap di sini menunggumu, Biru. Fajarku. Sekalipun kamu angkuh luar biasa, itulah sebab aku selalu siap menyalakan lilin kecil ini untukmu. Dalam pekatmu. Dalam leburku. Lekat.

...

Sama halnya dengan kami, putih dan hitam lalu sibuk sendiri dengan perseteruannya masing-masing.


-A


-(1) penggalan larik dari sajak Chairil Anwar, Prajurit Jaga Malam

No comments:

Post a Comment